Apakah Ibadah Haji Merupakan Puncak Ibadah dalam Islam?

Kita tahu dalam Quran bahwa ibadah haji yang dipelopori oleh Nabi Ibrahim itu wajib hukumnya.

“serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segala penjuru yang jauh”
Alquran surah 22 ayat 27

“Mengerjakan  haji adalah kewajiban manusia terhadap Tuhan”
Alquran surat 3 ayat 97.

Namun sebagian besar dari kita mungkin cenderung memandang ibadah haji sebagai ritual individu bukan ritual politik komunal. Sehingga dalam prakteknya seakan-akan suatu keimanan seseorang belumlah mumpuni kalau belum lah pergi berhaji. Umat pun berlomba-lomba mengumpulkan uang dan habis hanya untuk biaya haji.

Memang ibadah haji adalah puncak ibadah dalam Rukun Islam, rukun terakhir, namun itu tidak berarti tanpa haji berarti iman kita ibadah kita belum sempurna. Karena keimanan yang sempurna hanya bisa dicapai dengan menyedekahkan sebagian harta di jalan Allah ke pihak yang membutuhkan.

“kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian / ibadah  (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai (kepada yang membutuhkan). Dan apa saja yang kau nafkahkan sesungguhnya Allah Maha Tahu”
Al Quran surat 3:92

Dahulu saat hijrah rasulullah dan pengikutnya ke Medinah, sekelompok  penduduk asli Medinah yang telah Islam (Anshor) dihadapkan pada situasi dimana penduduk pendatang asal Mekkah (Muhajirin) dalam keadaan kantong kempes,  bokek, karena sebagian besar harta berupa rumah tanah ternak tempat usaha, sokongan keluarga, ditinggal di mekkah. Atas inisiatif nabi yang mempesaudarakan tiap kaum muhajirin dengan kaum anshor, kemudian kaum anshor menawarkan sebagaian harta nya kepada masing-masing saudara baru mereka.

Dalam kejadian ini terselip sebuah kisah yang mengharukan, seorang Anshor yang beristri dua menawarkan satu orang istrinya kepada saudara barunya dari kaum Muhajirin ”kamu silahkan pilih salah satu yang kamu sukai nanti akan saya ceraikan dia untukmu”. Apa yang ditunjukan oleh kaum anshor ini sejalan dengan yang dikehendaki Quran.

Nah kembali ke ibadah haji yang saya sayangkan adalah kapital atau uang yang terkumpul buat ibadah haji terbuang percuma tidak ada manfaat yang nyata buat sebagian besar umat Islam khusunya di Indonesia yang saat dalam kepungan kebodohan dan kemiskinan:
– 40 % penduduk dalam garis kemiskinan.
– 40 juta penduduk tidak punya pekerjaan tetap.
– Banyak Ibu hamil didesa tidak sanggup memenuhi gizi dengan makan sebutir telur sehari. Adanya kekurangan gizi ini menjadikan angka kematian ibu hamil di Indoensia termasuk tinggi di dunia.
– Biaya pendidikan semakin meningkat sementara gaji mayoritas penduduk Indonesia secara relatif berkurang akibat inflasi.

Disini Saya tidak bermaksud untuk melarang umat Islam yang mampu untuk beribadah Haji. Saya hanya bermaksud mengingatkan kita semua apakah yang kita lakukan, ibadah haji pada saat ini, sudah semestinya sesuai yang dinginkan Allah?

Apakah saat ini dimana sebagian penduduk Indonesia – yang sekitar 80 % Islam – berada dalam kesusahan, bukan saat yang tepat untuk bersegera mengatasi itu semua?

Apakah memang kita lebih suka pergi ke tempat yang jauh  untuk beribadah sementara didekat kita ada peluang untuk ibadah yang memberikan manfaat nyata kepada umat secara keseluruhan?

Ya memang benar, setiap waktu Kita sudah memberi Rp.500 kepada pengemis, pengamen atau mungkin Rp. 1 juta Kita telah sumbang setiap ada bencana banjir, longsor dan sejenisnya, tapi dengan uang sebesar itu sulit rasanya mencapai akar masalah yang ada, mengentaskan kemiskinan dan kebodohan.

Saya hitung secara kasar. Setiap tahun ada 200.000 orang calon haji Indoensia. Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp. 20 juta. Jadi ada dana sejumlah Rp. 4 trilyun yang lenyap setiap tahun tanpa bekas, tanpa manfaat kepada masyarakat luas, penduduk yang miskin. Mari kita berandai-andai dengan dana Rp 4 trilyun ini bila dikelola oleh suatu Lembaga atas nama umat islam  yang profesional:

Jika satu orang miskin butuh dana RP. 1 juta untuk modal usaha, akan tersedia cukup dana untuk memberi modal 4 juta orang miskin setiap tahun (ada ahli yang berpendapat bahwa lebih usaha masyarakat akan lebih efektif bila dana dibagi per kelompok usaha dari pada per individu) sehingga tahun depan Insya Allah penduduk yang miskin akan berkurang sebanyak 4 juta orang, atau

Jika biaya melanjutkan pendidikan S2, khususnya jurusan teknik, komputer, MIPA, kedokteran, dan jurusan sejenis lainnya, hingga selesai di dua pusat peradaban dunia yaitu Universitas Harvard di Amerika Serikat atau Universitas Oxford di Inggris (Nabi Muhammad pada jamannya menganjurkan supaya belajar ke Cina yang saat itu merupakan salah satu puncak peradaban dan kebudayaan dunia) memerlukan dana sekitar Rp. 400 juta, maka akan tersedia dana beasiswa bagi 10.000 orang sarjana terbaik setiap tahunnya.

Sebagai informasi: jumlah beasiswa untuk S2 dari AMINEF dan USAID paling banyak hanya tersedia untuk 200 orang Sarjana dalam setahun, mohon diperhatikan disini dua yayasan ini adalah Yayasan Non-Islam tapi mereka lebih perduli dengan pendidikan daripada kita yang katanya sih “umat terbaik!”.

Dalam 10 tahunan akan ada sekitar 100.000 Lulusan S2 yang berkulitas nomor satu. Dengan lulusan S2 berkualitas sebanyak ini tidak berlebihan bila kita mengharapkan beberapa ratus dari mereka akan menghasilkan banyak patent internasional yang bernilai jutaan dollar atas penemuan-penemuan mereka bukan?

Memang benar mensejahterakan rakyat adalah tugas Pemerintah tugas Ulil Amri, tapi menunggu tindakan Pemerintah Indonesia yang pada saat ini sebagain besar duit (APBN) nya saja dapat dari ngutang, belum lagi KKN, ya seperti menunggu Godot, menunggu tanpa hasil sampai kiamat.

Bila dana yang dikeluarkan haji disalurkan untuk menolong penduduk miskin, modal usaha masyarakat, beasiswa, Saya yakin amal pahala nya / manfaatnya akan lebih besar dari pelaksanaan Ibadah Haji. Dana yang tersalurkan akan menetes terus ke bawah, menyebar kesamping (trickle down effect) memberi manfaat kepada masyarakat luas. Bukankah inilah yang sebenarnya dimaksudkan Quran bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin?

“Perumpamaan (manfaat) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, dimana pada setiap bulir mengandung seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa saja yang dikehendakinya. Allah maha luas (karunia) dan maha tahu”
Al Quran Surat 2 ayat 261

Tulisan ini dipublikasikan di Tak terkategori dan tag , , , , . Tandai permalink.